Mengawali akhir pekan dengan penuh karya, kelompok Medan Teater sukses menyelenggarakan Festival Musikalisasi Puisi bertajuk Kopi & Kepo. Acara yang menjadi angin segar bagi skena kesenian ini dilangsungkan di Taman Budaya Medan, Jalan Perintis Kemerdekaan No.33, pada Sabtu (2/5/2026) sore hingga malam hari.
Kegiatan bernuansa artistik ini merupakan bentuk apresiasi mendalam terhadap buku puisi karya Hasan Al Banna, yang prestasinya tak main-main karena berhasil masuk dalam jajaran tiga besar buku puisi pilihan Tempo 2025.
Festival ini memanjakan penonton lewat pertunjukan musikalisasi puisi yang dibawakan secara ciamik oleh kelompok 7 Keliling. Mereka sukses menghadirkan interpretasi panggung atas puisi-puisi dalam buku Kopi & Kepo melalui racikan perpaduan musik, pembacaan teks, hingga eksplorasi gerak yang memukau.
Menghadirkan Puisi di Ruang Publik
Penyelenggara sekaligus Pimpinan Medan Teater, Munawar Lubis, menegaskan bahwa festival ini adalah langkah nyata untuk menghadirkan kembali puisi ke tengah ruang publik dengan pendekatan yang jauh lebih membumi dan dekat dengan masyarakat.
“Festival ini adalah cara kami merayakan puisi, menghadirkan rasa yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Munawar di sela-sela acara.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa musikalisasi puisi bukan sebatas tontonan di atas panggung, melainkan sebuah ruang dialog interaktif antara karya sastra dan realitas sosial. Karya yang dipentaskan mewakili kristalisasi berbagai spektrum emosi manusia, dari keresahan, tawa yang tertahan, hingga kesedihan paling sunyi.
“Festival ini adalah ruang untuk merayakan rasa yang sering kali kita abaikan. Kami ingin menunjukkan bahwa emosi manusia memiliki ruangnya sendiri untuk diapresiasi,” tambahnya.
Dukungan Ekosistem Budaya
Acara apresiasi sastra ini turut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Medan, Rico Waas. Dalam sambutannya, ia menekankan betapa pentingnya roda kegiatan seni terus berputar guna memperkuat ekosistem budaya yang ada.
“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa seni dan sastra tetap hidup dan relevan, serta mampu menjadi ruang ekspresi generasi muda,” ucap Rico.
Melalui penyelenggaraan Kopi & Kepo ini, Medan Teater berharap paradigma bahwa puisi adalah sesuatu yang eksklusif dapat dipatahkan. Sastra adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari yang berhak dinikmati oleh semua kalangan, sekaligus menjadi pemantik kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.




