TEBING TINGGI – Pemerintah Kota (Pemko) Tebing Tinggi kembali menegaskan komitmen seriusnya dalam mengakselerasi percepatan penurunan angka stunting di daerah. Komitmen ini direalisasikan melalui kegiatan Orientasi Pemantauan Tumbuh Kembang Balita Berisiko Stunting yang dirangkai dengan pelaksanaan Intervensi Serentak Pencegahan Stunting (ISPS).
Kegiatan strategis ini diselenggarakan di Aula Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi pada Rabu (5/8/2026) dan dihadiri langsung oleh seluruh Camat dan Lurah se-Kota Tebing Tinggi. Keterlibatan pimpinan wilayah ini menjadi bukti nyata bahwa penanganan stunting bukan semata tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan wujud sinergi lintas sektoral.
Investasi Masa Emas 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Tebing Tinggi, Erwin Suheri Damanik, yang hadir membuka kegiatan tersebut menyampaikan bahwa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa emas bagi pertumbuhan seorang anak. Jika intervensi telat dilakukan dan bayi mengalami kekurangan gizi kronis, maka risiko hambatan tumbuh kembang dan penurunan produktivitas anak di masa depan akan meningkat drastis.
“Semua pihak harus memahami bahwa pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang untuk generasi masa depan,” tegas Sekdako Erwin Suheri Damanik dalam sambutannya.
Kehadiran program ISPS di lapangan juga didukung penuh oleh para kader kesehatan di akar rumput. Salah seorang Kader Posyandu di Kota Tebing Tinggi menuturkan bahwa pemeriksaan rutin terus digalakkan dengan proses pengukuran yang optimal.

“Kami berusaha memastikan semua balita datang ke Posyandu. Kalau ada yang berat badannya tidak naik, langsung kami rujuk ke Puskesmas,” ungkap kader tersebut.
Tren Positif Penurunan Angka Stunting Tebing Tinggi
Upaya berkelanjutan yang dilakukan Pemko Tebing Tinggi mulai membuahkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data dari aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) serta laporan SIGIZIKESGA per Juni 2026, angka prevalensi stunting di Kota Tebing Tinggi terus menunjukkan tren penurunan.
Berikut adalah rincian data penanganan stunting di Kota Tebing Tinggi:
| Indikator Laporan | Keterangan & Realisasi (Tahun 2026) |
| Persentase Stunting (e-PPGBM) | 1,44% (Turun dari 1,53% pada Tahun 2025) |
| Total Balita Diukur (SIGIZIKESGA) | 9.222 Balita |
| Temuan Balita Stunting | 123 Balita |
Target Mutlak dan Sinergi Lintas Kementerian
Program ISPS merupakan gerakan nasional yang diluncurkan oleh pemerintah pusat guna mengejar target penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 17,5% di tahun 2026.
Di Kota Tebing Tinggi, program ini menetapkan 4 (empat) target pengukuran mutlak yang harus tercapai, yaitu:
- 100% ibu hamil diukur Lingkar Lengan Atas (LiLA).
- 100% balita ditimbang dan diukur panjang/tinggi badannya menggunakan alat antropometri terstandar.
- 100% kasus gizi bermasalah langsung dirujuk ke Puskesmas untuk intervensi medis segera.
- 100% edukasi pencegahan stunting diberikan secara menyeluruh kepada ibu hamil dan keluarga balita.
Untuk menunjang target tersebut, Pemko menerapkan strategi “10 Pasti” dalam ISPS yang mencakup pendataan menyeluruh, ketersediaan alat ukur standar, pemberian vitamin A dan obat cacing, pencatatan ke sistem SIGIZIKESGA, hingga evaluasi rutin.
Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari intervensi multisektoral yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kemendagri, BKKBN, Kemendes, Bappenas, hingga Kementerian PUPR (untuk akses sanitasi dan air bersih) serta Kementerian Sosial (Program PKH/Sembako dan JKN PBI).
Pemko Tebing Tinggi optimis langkah berkelanjutan ini akan menjadi instrumen strategis. “Harapan besar kami adalah terwujudnya generasi Kota Tebing Tinggi yang bebas dari stunting, sehat, cerdas, dan produktif, sehingga mampu menjadi fondasi kuat bagi pembangunan daerah dan masa depan bangsa,” tutup Sekdako Erwin Suheri Damanik.



