Pimpin Rakor Penanggulangan TBC, Sekda Tebing Tinggi Minta Aksi Nyata: “Jangan Ada Perlambatan!”

Pemerintah Kota Tebing Tinggi mencatat terdapat 137 kasus positif dan 808 terduga TBC. Pengentasan wabah ini ditekankan sebagai tanggung jawab lintas sektoral, bukan hanya Dinas Kesehatan semata.

- Advertisement -

TEBING TINGGI – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tebing Tinggi, Erwin Suheri Damanik, memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) Tahun 2026. Pertemuan strategis ini digelar di Ruang Mawar, Lantai III Balai Kota Tebing Tinggi, pada Kamis (13/8/2026).

Dalam rapat yang dihadiri oleh jajaran camat serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait tersebut, Sekda memberikan arahan tegas. Ia menggarisbawahi bahwa penanganan TBC mutlak memerlukan kerja kolektif dan kolaborasi lintas sektoral.

“Kalau namanya Tim Percepatan, berarti ini harus kita lakukan dengan percepatan. Jangan lagi ada perlambatan. Kita harus melakukan langkah nyata,” tegas Erwin Suheri Damanik saat memimpin rapat.

Pemetaan Data Terperinci dan Tindak Lanjut

Sekda meminta agar seluruh perangkat daerah mengambil peran aktif sesuai tugas pokok fungsinya, mulai dari penyediaan data, perencanaan anggaran, perbaikan lingkungan, hingga komunikasi publik.

Terkait sebaran penyakit, data yang dipaparkan dalam Rakor menunjukkan angka yang membutuhkan perhatian serius. Berikut rinciannya:

Kategori Data TBC Kota Tebing Tinggi (2026)Jumlah
Kasus Positif Tuberkulosis (TBC)137 Kasus
Terduga (Suspek) TBC~ 808 Orang

Angka tersebut, menurut Sekda, tidak boleh sekadar menjadi pajangan di atas kertas. Ia menginstruksikan agar data penderita dan terduga TBC dipetakan secara lebih detail dan mendalam hingga ke tingkat kecamatan, kelurahan, dan lingkungan (RT/RW).

Peta sebaran ini nantinya harus menjadi landasan utama bagi camat, lurah, kepala lingkungan, dan puskesmas setempat untuk melakukan intervensi langsung, memantau kontak erat, dan mempercepat pemeriksaan sasaran.

Pentingnya Peran PMO dan Faktor Lingkungan

Bagi pasien yang telah dinyatakan positif TBC, Sekda mewanti-wanti agar pengobatan dilakukan secara tuntas tanpa terputus. Di sinilah peran Pengawas Menelan Obat (PMO) menjadi sangat krusial untuk memastikan pasien disiplin mengonsumsi obat sesuai anjuran medis.

- Advertisement -

Di samping aspek medis, faktor lingkungan fisik dinilai sangat memengaruhi rantai penularan TBC. Oleh karena itu, Sekda meminta intervensi dari dinas terkait:

  • Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perkimtah, dan Pemadam Kebakaran: Diminta ikut mengambil peran dalam mengevaluasi kepadatan permukiman, memastikan sirkulasi udara rumah warga yang memadai, serta menjaga sanitasi lingkungan.

“Jangan sampai rapat ini hanya menghasilkan tabel dan laporan. Kita harus tahu apa yang sudah dikerjakan, apa yang belum, dan apa tindakan berikutnya,” tekannya.

Dukungan Nutrisi dari UMKM Lokal

Menariknya, rakor ini juga turut melibatkan partisipasi dari masyarakat. Seorang pelaku UMKM pangan lokal, Nurul Azni, hadir untuk memperkenalkan produk susu kambing pasteurisasi olahannya.

Ia memaparkan bahwa susu kambing dapat menjadi asupan nutrisi tambahan yang sangat baik bagi masa pemulihan penderita TBC, meski ia menegaskan bahwa produk tersebut bukan pengganti pengobatan medis utama.

Rapat koordinasi ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat penting Pemerintah Kota Tebing Tinggi, di antaranya:

  • Kadis Kominfo, Ghazali Rahman
  • Kadis Lingkungan Hidup, Herry Aryanto
  • Kepala BPKPD, Sri Imbang Jaya Putra
  • Kepala DPMPTSP, Nina Zahara
  • Inspektur Daerah, Muhammad Fachri
  • Camat Padang Hilir, Melly Rahmayanti
  • Camat Tebing Tinggi Kota, Henci Siregar

Sebagai penutup, Sekda menginstruksikan agar koordinasi pasca-rapat segera diperkuat untuk menindaklanjuti hasil pemetaan data TBC di lapangan, demi mewujudkan Kota Tebing Tinggi yang lebih sehat dan terbebas dari wabah Tuberkulosis.

- Advertisement -

Artikel Terkait :

Artikel Terkait :

Populer

Topik Populer

#1

#2

#3

#4