Dilema antara mengejar karier dan memastikan kualitas pengasuhan anak kerap menjadi momok utama bagi para perempuan pekerja di Tanah Air.
Menjawab keresahan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN secara resmi meluncurkan sebuah terobosan baru bernama Program Tamasya.
Program strategis ini disiapkan khusus sebagai bantalan sosial untuk mendukung pengasuhan anak yang berkualitas, sekaligus menjadi katalisator untuk terus meningkatkan angka partisipasi kerja perempuan di Indonesia dalam menyongsong era bonus demografi.
Dilema Ibu Bekerja dan Kualitas Generasi
Wakil Menteri Kemendukbangga/BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menilai bahwa kualitas fasilitas pengasuhan anak memiliki korelasi yang sangat kuat dan berbanding lurus dengan angka partisipasi kerja perempuan di ruang publik. Negara dituntut untuk hadir memberikan perlindungan agar anak tidak menjadi “korban” dari kesibukan orang tua.
“Perempuan harus tetap bekerja tanpa mengabaikan pengasuhan anak. Anak juga wajib memperoleh perlindungan dan pendampingan baik,” tegas Isyana dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Jumat (15/5/2026).
Kelahiran Program Tamasya ini bukan tanpa alasan. Ini adalah respons cepat dan taktis pemerintah dalam menghadapi ledakan jumlah penduduk usia produktif.
BKKBN menyadari betul bahwa masa depan bangsa dan keberhasilan memanfaatkan jendela bonus demografi sangat ditentukan oleh kualitas pengasuhan anak usia dini di masa sekarang.
Empat Layanan Utama Program Tamasya
Secara teknis, Program Tamasya berfokus pada pendampingan holistik bagi orang tua, pihak pengasuh, dan tentunya anak usia dini itu sendiri.
Untuk memastikan pelaksanaannya berjalan efektif, Kemendukbangga/BKKBN telah memformulasikan empat layanan utama yang siap diakses oleh keluarga pekerja:
- Sertifikasi dan Kompetensi Pengasuh: Program ini memastikan bahwa setiap pengasuh di fasilitas daycare memiliki standar kompetensi yang mumpuni dan terverifikasi dalam menangani anak usia dini.
- Pemantauan Tumbuh Kembang Rutin: Kondisi fisik, mental, dan kognitif anak akan terus dipantau secara berkala layaknya standar layanan kesehatan terpadu.
- Pelibatan Aktif Keluarga: Meski dititipkan, program ini tetap mewajibkan adanya interaksi dan keterlibatan emosional dari pihak keluarga dalam proses parenting agar ikatan batin tidak terputus.
- Layanan Rujukan Terpadu: “Layanan rujukan disiapkan agar orang tua bekerja lebih tenang. Pengasuhan anak tetap berjalan aman dan terpantau,” jelas Isyana. Layanan ini memastikan anak mendapat akses cepat jika membutuhkan penanganan medis atau psikologis lanjutan.
Evolusi Tempat Penitipan Anak (TPA)
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, menambahkan bahwa Program Tamasya pada hakikatnya adalah versi penyempurnaan yang jauh lebih modern dan komprehensif dari layanan Tempat Penitipan Anak (TPA) konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.
Program mutakhir ini dirancang khusus untuk memperkuat jaminan kualitas pengasuhan.
Hebatnya, eksekusi Program Tamasya dirancang sangat fleksibel dan dapat diadaptasi atau diterapkan langsung di berbagai lini, mulai dari lingkungan perkantoran pemerintah, kawasan industri/perusahaan, hingga di level komunitas masyarakat.
Pendekatan desentralisasi ini dilakukan agar layanan pengasuhan benar-benar tepat sasaran dan menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan lingkungan kerja masing-masing.


