Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) tengah tancap gas membenahi iklim investasi di daerahnya guna memacu pertumbuhan ekonomi makro. Sektor Minyak dan Gas Bumi (Migas) kini menjadi sorotan utama, di mana rantai birokrasi yang berbelit-belit ditargetkan untuk segera dipangkas habis demi mengamankan aliran modal triliunan rupiah.
Komitmen tegas ini disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur (Wagub) Sumut, Surya, saat menerima audiensi perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama jajaran Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Pertemuan strategis tersebut berlangsung di Anjungan Lantai 9 Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, pada Senin (11/5/2026).
Karpet Merah untuk Investor: Izin Wajib Cepat!
Di hadapan para petinggi sektor energi tersebut, Wagub Surya menegaskan bahwa Pemprov Sumut menjamin keamanan dan kenyamanan bagi para investor. Syarat utamanya hanya satu: proses perizinan dan rekomendasi teknis di tingkat daerah tidak boleh lagi memakan waktu berbulan-bulan.
“Segala sesuatu yang disampaikan akan menjadi catatan kami untuk dilaporkan kepada Bapak Gubernur. Kami minta proses perizinan dipercepat agar investasi segera terealisasi. Jangan sampai birokrasi menghambat potensi pendapatan daerah dan penyerapan tenaga kerja lokal,” ujar Surya dengan nada optimis dan tegas.
Langkah percepatan birokrasi ini dinilai sangat krusial. Pasalnya, realisasi proyek di lapangan yang cepat akan menciptakan multiplier effect (efek ganda) bagi perekonomian Sumatera Utara, mulai dari pemberdayaan vendor-vendor lokal hingga terbukanya ribuan lapangan pekerjaan baru.
Suntikan Dana US$300 Juta dari SKK Migas
Gairah investasi di Sumut memang sedang berada dalam tren yang sangat positif. Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), CW Wicaksono, memaparkan data mengejutkan bahwa wilayah Sumbagut memegang peran yang sangat vital dengan kontribusi sekitar 30% terhadap total produksi migas nasional.
Dari estimasi 900 hingga 1.000 sumur migas yang tersebar, sebanyak 60% kegiatan operasionalnya berpusat di wilayah Sumbagut. Hal ini menjadikan Sumut sebagai salah satu lumbung energi paling strategis di Indonesia.
“Kami berupaya membawa investasi sekitar US$300 juta (setara dengan Rp4,8 Triliun) ke wilayah ini. Kami sangat menghargai dukungan pemerintah daerah, karena tantangan investasi dan ketahanan energi di masa depan, khususnya pada periode 2025-2030, akan semakin sulit dan kompetitif,” ungkap Wicaksono.
Mengubah Petaka Ilegal Menjadi Cuan Rakyat
Di luar mega-investasi dari korporasi multinasional, Wagub Surya juga memberikan atensi khusus pada nasib perekonomian akar rumput, khususnya masyarakat yang selama ini mengelola sumur-sumur minyak tua peninggalan masa lalu secara tradisional.
Praktik penambangan ilegal (illegal drilling) selama ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga sangat mengancam keselamatan nyawa warga dan memicu kerusakan lingkungan hidup. Untuk itu, Surya mendesak Pertamina dan instansi terkait untuk segera merumuskan formula legalisasi sumur-sumur rakyat tersebut.
“Kita ingin sumur-sumur yang selama ini ilegal bisa diinventarisir dan dilegalkan, agar standar operasional dan produksinya bagus, sehingga masyarakat mendapat manfaat ekonominya secara sah dan aman,” tambahnya.
Merespons instruksi krusial ini, SKK Migas berencana akan segera memfasilitasi Pemda dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sumut untuk melakukan studi banding ke Provinsi Jambi atau Sumatera Selatan. Tujuannya adalah mempelajari best practice (praktik terbaik) tata kelola sumur tua yang secara legal melibatkan peran aktif Koperasi Unit Desa (KUD) dan masyarakat setempat, sehingga roda ekonomi desa dapat berputar kencang tanpa melanggar hukum.
Ekspansi Raksasa di Langkat dan Deliserdang
Pembicaraan di atas meja segera diwujudkan dalam proyek nyata di lapangan. Deputi General Manager (GM) Pertamina, Reza Rahardian, membocorkan bahwa Pertamina siap menggandeng perusahaan raksasa energi asal Jepang, Japex, untuk fokus mengembangkan wilayah Kabupaten Langkat.
Fokus proyek ini adalah pengeboran dua sumur baru yang direncanakan akan kick-off pada Agustus 2026 di Desa Bubun, Kecamatan Tanjungpura. Jika semua berjalan lancar, target produksi perdana ( first drop) dijadwalkan mengalir pada Juni 2027.
Tak hanya itu, Pertamina juga membawa kabar gembira dari lapangan migas tertua di Indonesia, yakni Pangkalan Susu. Setelah serangkaian pengujian di Pulau Panjang menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan, Pertamina berencana memperluas ekspansinya dengan mengebor dua sumur gas baru di kawasan Hamparan Perak, Kabupaten Deliserdang.
Ekspansi di Hamparan Perak ini diproyeksikan akan menjadi tulang punggung pemenuhan pasokan gas untuk kawasan-kawasan industri yang terus menggeliat di Sumatera Utara, memastikan pabrik-pabrik tetap mengepul dan roda ekonomi provinsi berputar pada kecepatan maksimal.



