Poin Utama:
- Lapas Kelas I Tanjung Gusta Medan berhasil memanen 250 kilogram ikan lele hasil budidaya para warga binaan.
- Panen berlangsung di area Sarana Asimilasi dan Edukasi Ketahanan Pangan, kawasan Branggang Timur.
- Program ini dirancang untuk mendukung ketahanan pangan internal sekaligus melatih keterampilan perikanan warga binaan.
- Aktivitas budidaya dipilih untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian selama menjalani masa pidana.
- Pihak lapas berharap keahlian praktis ini menjadi modal berharga bagi narapidana saat kembali ke tengah masyarakat.
Tembok tinggi dan kawat berduri kerap kali hanya dilihat sebagai simbol pengekangan dan akhir dari sebuah perjalanan. Namun, di sudut Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tanjung Gusta Medan, jeruji besi justru menjadi saksi bisu lahirnya sebuah kemandirian. Di tempat ini, masa hukuman tidak sekadar dihabiskan dalam diam, melainkan diisi dengan kerja keras yang menumbuhkan harapan.
Pada akhir pekan ini, suasana di area Branggang Timur terasa jauh dari kesan suram. Di kawasan yang secara khusus difungsikan sebagai Sarana Asimilasi dan Edukasi Ketahanan Pangan tersebut, para warga binaan baru saja memanen hasil keringat mereka sendiri: 250 kilogram ikan lele segar.
Membangun Kemandirian Lewat Kolam Ikan
Keberhasilan memanen ratusan kilogram lele ini bukanlah kebetulan semata, melainkan buah dari program pembinaan terstruktur yang dirancang secara konsisten oleh pihak lapas.
Kabid Kegiatan Kerja Lapas Medan, Yan Patmos, menjelaskan bahwa aktivitas ini memiliki tujuan ganda. Langkah ini tidak hanya berfokus pada ketahanan pangan, tetapi juga menitikberatkan pada pengembangan kapasitas personal para narapidana.
“Hasil panen ini bagian dari pembinaan di bidang perikanan untuk warga binaan. Selain jadi sarana pelatihan, program ini juga mendukung ketahanan pangan di dalam lapas. Total lele yang dipanen mencapai 250 kg,” ungkap Yan Patmos dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Bekal Berharga untuk Kembali ke Masyarakat
Budidaya ikan lele sengaja dipilih karena proses perawatannya menuntut kedisiplinan, ketekunan, dan kerja sama—karakteristik yang sangat dibutuhkan oleh para warga binaan saat menata ulang hidup mereka. Keterlibatan langsung dalam setiap proses, mulai dari menebar benih, memantau kualitas air, hingga akhirnya memasuki masa panen, memberikan pengalaman praktis yang bernilai tinggi.
Bagi pihak lembaga pemasyarakatan, program ini adalah bentuk investasi jangka panjang bagi masa depan para narapidana. “Kegiatan ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan di lapas, tetapi juga memberi bekal keahlian bagi warga binaan ketika kembali ke masyarakat nanti,” tambah Yan.
Merajut Ulang Lembaran Kehidupan
Kisah dari kolam lele di Tanjung Gusta ini membuktikan bahwa pendekatan pembinaan yang tepat mampu perlahan mengubah stigma masyarakat. Hukuman pidana masa kini didorong untuk tidak sekadar memenjarakan fisik, melainkan menyediakan ruang untuk memperbaiki diri.
Ketika tiba saatnya bagi para warga binaan ini melangkah keluar dari gerbang lapas, mereka tidak akan pulang dengan tangan kosong. Berbekal keterampilan yang telah diasah selama berada di dalam, kemandirian itu diharapkan mampu menjadi fondasi baru agar mereka dapat diterima kembali, hidup berdampingan dengan damai, dan tak lagi mengulangi lembaran kelam di masa lalu.


