TEBING TINGGI – Komplotan maling di wilayah Kota Tebing Tinggi, khususnya di Kecamatan Rambutan, kini semakin meresahkan dan tidak pandang bulu dalam beraksi. Tidak hanya mengincar harta benda milik warga dan fasilitas tempat ibadah, para pencuri kini dengan nekat menyikat aset infrastruktur milik negara berupa tiang dan rambu-rambu lalu lintas.
Akibat ulah komplotan tangan panjang ini, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tebing Tinggi harus menelan kerugian finansial yang cukup fantastis, mencapai puluhan juta rupiah.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi, Bernard Hutapea, membenarkan fenomena maraknya pencurian aset rambu lalu lintas yang terbuat dari besi di wilayah kerjanya. Salah satu titik yang paling sering menjadi sasaran empuk adalah rambu larangan mobil masuk yang terpasang tepat di depan Kantor Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi.
Bernard mengungkapkan rasa geramnya lantaran fasilitas vital yang dibeli menggunakan uang negara tersebut terus-menerus digasak maling, sehingga memaksa pihak dinas untuk terus menganggarkan penggantian baru.
“Akibat kehilangan rambu-rambu lalu lintas itu, pihak kami mengalami kerugian puluhan juta rupiah. Hal itu sudah menjadi tanggung jawab kita untuk menggantinya,” keluh Bernard kepada wartawan.
“Rambu yang di depan Kantor Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi itu bahkan sudah dua kali kita ganti, dan yang ketiga akan segera kita pasang, tunggu saja,” tegasnya lebih lanjut.
Meski instansinya terus dirugikan hingga puluhan juta rupiah, Bernard mengakui bahwa saat ini pihak Dishub belum sempat membuat laporan pengaduan resmi ke Polresta Tebing Tinggi. Padatnya jadwal dan tugas pokok instansi menjadi alasan utama penundaan tersebut.
Kendati demikian, ia memastikan bahwa langkah hukum akan segera diambil. “Ya, setelah tugas-tugas kantor selesai, mungkin kita akan buat pengaduan resmi ke polisi, sehingga pihak kepolisian tahu siapa yang mencuri rambu-rambu lalu lintas itu,” ucap Bernard.
Keresahan yang dialami oleh Dishub ternyata juga dirasakan kuat oleh warga sekitar. Tokoh masyarakat setempat, Wak Zali, menduga kuat bahwa komplotan maling rambu lalu lintas ini bekerja secara terorganisir. “Sepertinya para maling itu ada yang mengoordinir,” curiganya.
Desakan keras pun meluncur dari kaum ibu kelompok Perwiridan Khoiriyah di Kecamatan Rambutan. Mewakili keresahan warga, Buk Lis meminta agar aparat kepolisian tidak tinggal diam dan segera menggelar operasi untuk meringkus para pelaku.
“Tolonglah Pak Polisi, tangkap para maling itu yang sudah bikin resah masyarakat, khususnya warga Lingkungan 03 Kelurahan Tanjung Marulak. Bukan cuma rumah yang dibongkar, tapi mesjid pun dibongkar,” desaknya penuh harap.
“Akibat kehilangan rambu-rambu lalu lintas itu, pihak kami mengalami kerugian puluhan juta rupiah… Rambu yang di depan Kantor Dinas Pendidikan itu sudah dua kali kita ganti, dan yang ketiga akan kita pasang.” — Bernard Hutapea, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi.


