ONESPORTS.ID – Rencana besar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) untuk menyulap Rumah Sakit (RS) Haji Medan menjadi fasilitas kesehatan bertaraf internasional tengah menemui jalan buntu. Proses penandatanganan permohonan persetujuan pinjaman dana dari Korea Selatan resmi tertunda.
Gubernur Sumatera Utara terpilih, Bobby Nasution, dengan tegas menolak untuk meneken dokumen pinjaman tersebut. Keputusan ini diambil lantaran dirinya belum menerima penjelasan dan rincian yang komprehensif terkait proyek raksasa itu.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sumut, Erwin Hotmansah Harahap, membenarkan situasi ini. Ia menjelaskan bahwa dokumen pinjaman ini sebenarnya merupakan “warisan” yang sempat tertunda sejak masa gubernur sebelumnya akibat masalah administrasi.
“Mendagri merekomendasikan lebih baik ke Gubernur terpilih, Pak Bobby Nasution. Namun karena belum mendapat penjelasan secara rinci, beliau menolak menandatanganinya,” ungkap Erwin di kantornya, Sabtu (23/5/2026).
Bukan Sekadar Proyek Rp 484 Miliar
Banyak informasi yang beredar menyebut nilai proyek ini sebesar Rp 484 miliar. Erwin meluruskan bahwa angka tersebut hanyalah estimasi khusus untuk pengerjaan konstruksi fisik Tower B. Angka pastinya baru akan diketahui setelah proses tender selesai dilakukan.
Faktanya, total estimasi pinjaman yang diajukan ke investor Korea Selatan mencapai Rp 967,3 miliar (setara US$ 66,7 juta). Dana jumbo ini tidak hanya untuk menyemen gedung, melainkan sudah mencakup pengadaan peralatan medis canggih, Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS), desain arsitektur, hingga peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
Skema Cicilan Ringan 40 Tahun
Pemprov Sumut memilih Korea Selatan berdasarkan rekomendasi dari Bappenas dan Kementerian Keuangan. Skema pinjaman yang ditawarkan terbilang sangat ringan, dengan jangka waktu pelunasan mencapai 40 tahun dan masa tenggang (grace period) selama 10 tahun. Selama masa tenggang tersebut, Pemprov Sumut hanya diwajibkan membayar bunga.
Bunga yang dikenakan pun diklaim sangat rendah, yakni hanya 0,05 persen per tahun dengan acuan kurs Rp 14.500 per dolar AS saat kesepakatan dibuat.
Meski menawarkan banyak kemudahan untuk menaikkan kelas RS Haji Medan, Erwin mengimbau masyarakat untuk tidak termakan isu liar. Ia meminta publik menyikapi polemik penundaan proyek ini dengan bijak agar tidak memicu hoaks yang berlebihan.
“Mendagri merekomendasikan lebih baik ke Gubernur terpilih, Pak Bobby Nasution. Namun karena belum mendapat penjelasan secara rinci, beliau menolak menandatanganinya.”


