Kota Pematangsiantar kini resmi memasuki babak baru di bawah kepemimpinan pasangan Wali Kota Wesly Silalahi, S.H., M.Kn, dan Wakil Wali Kota Herlina. Duet kepemimpinan ini membawa angin segar bagi kota terbesar kedua di Sumatera Utara tersebut, dengan memadukan pengalaman di bidang hukum dan rekam jejak kuat dalam pemberdayaan sosial masyarakat.
Sebagai Wali Kota Pematangsiantar ke-20, Wesly Silalahi bukanlah sosok sembarangan. Pria kelahiran Pematangsiantar, 12 Oktober 1957 ini memiliki latar belakang akademis dan profesional yang sangat matang. Menamatkan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Indonesia, Wesly telah lama berkecimpung dalam dunia hukum, termasuk menjabat sebagai anggota Majelis Kehormatan Notaris (MKN) UI Salemba 09 sejak tahun 2009. Berbekal pengalaman luas dalam kepemimpinan daerah dan keaktifannya di berbagai organisasi strategis, Wesly dinilai memiliki kapasitas mumpuni untuk menata regulasi dan birokrasi pemerintahan kota.
Langkah Wesly semakin solid dengan didampingi oleh Herlina sebagai Wakil Wali Kota. Tokoh perempuan kelahiran 3 Oktober 1976 ini dikenal sangat dekat dengan masyarakat akar rumput. Lulusan SMK Bintang Timur Pematangsiantar ini memiliki visi yang tajam dalam hal pemberdayaan ekonomi. Hal tersebut dibuktikannya melalui keaktifannya sejak tahun 2018 sebagai Ketua UMKM Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Siantar Barat serta Ketua PC PIRA Pematangsiantar. Kehadiran Herlina diharapkan mampu mendongkrak kesejahteraan warga melalui program-program sosial dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Memimpin Kota Penuh Sejarah dan Potensi Ekonomi
Tugas yang diemban oleh Wesly dan Herlina tentu tidak ringan, mengingat Pematangsiantar adalah kota dengan nilai historis dan potensi ekonomi yang sangat strategis. Kota berpenduduk lebih dari 268 ribu jiwa ini memiliki posisi krusial sebagai jalur perlintasan utama menuju destinasi wisata super prioritas, Danau Toba.
Kota yang memiliki semboyan “Sapangambei Manoktok Hitei” (bergotong-royong demi tujuan mulia) ini juga ditopang oleh sektor industri besar dan sedang, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Dengan kekayaan warisan sejarahnya—mulai dari era Kerajaan Siantar di bawah dinasti Damanik, jejak peninggalan kolonial Belanda yang melahirkan identitas ikonik becak motor lawas bermesin BSA (Birmingham Small Arms Company), hingga prestasi meraih Piala Adipura dan Wahana Tata Nugraha di era modern—Siantar selalu memiliki daya tarik tersendiri.
Kini, di bawah komando Wesly Silalahi dan Herlina, warga menaruh harapan besar. Sinergi antara ketegasan hukum dan sentuhan pemberdayaan ekonomi diharapkan mampu mengembalikan masa kejayaan Pematangsiantar, menjadikannya kota yang tidak hanya tertib dan ramah bagi wisatawan, tetapi juga membawa kesejahteraan nyata bagi seluruh warganya.


