Suasana haru menyelimuti Stasiun Kereta Api Bekasi Timur pada Senin (4/5/2026). PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) menggelar acara tahlilan dan doa bersama untuk mendoakan 16 korban yang meninggal dunia akibat insiden kecelakaan kereta api yang baru saja terjadi.
Acara doa bersama tersebut dihadiri langsung oleh jajaran petinggi perusahaan, di antaranya Direktur Utama (Dirut) PT KAI, Bobby Rasyidin, serta Komisaris Utama (Komut) PT KAI, Said Aqil Siradj.
Permohonan Maaf dan Tanggung Jawab PT KAI
Di hadapan publik, Bobby Rasyidin menyampaikan belasungkawa yang mendalam dan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga korban.
Ia menegaskan bahwa insiden ini merupakan pukulan dan kehilangan yang sangat besar, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi instansi PT KAI.
“Ini kehilangan besar tidak hanya buat keluarga korban, juga kehilangan besar buat kami. Tidak henti-hentinya kami mendoakan dan tentunya kami berbelasungkawa sebesar-besarnya, memohon maaf dan ini tanggung jawab kami,” tegas Bobby.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa PT KAI ingin memposisikan diri sebagai bagian dari keluarga para korban agar dapat berbagi dan merasakan duka yang tengah dialami.
Pendampingan Penuh 24 Jam
Sebagai wujud nyata dari tanggung jawab instansi, PT KAI memastikan bahwa seluruh hak-hak korban akan diurus sepenuhnya tanpa terkecuali.
Bobby menjelaskan beberapa langkah konkret pendampingan yang telah dan sedang dilakukan oleh PT KAI:
- Pengurusan Jenazah: Mengantarkan korban yang meninggal dunia hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
- Pendampingan Medis 24 Jam: Menempatkan staf KAI secara khusus untuk berjaga 24 jam penuh di rumah sakit tempat korban luka-luka dirawat.
- Pemenuhan Hak: Mengurus secara tuntas seluruh hak administratif dan kompensasi bagi para korban kecelakaan.
PT KAI mengupayakan standar perawatan terbaik agar para korban yang mengalami luka-luka dapat segera pulih dan beraktivitas seperti sediakala.
Evaluasi dan Komitmen Keselamatan Tanpa Kompromi
Menutup keterangannya, PT KAI menegaskan komitmen mutlak perusahaan untuk mengevaluasi dan memberikan layanan yang jauh lebih aman di masa mendatang.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa tingkat keselamatan transportasi publik adalah aspek fundamental yang sama sekali tidak bisa ditoleransi maupun dikompromikan.




