Tiga Hari Pencarian Berakhir Duka, Remaja Hanyut di Sei Belawan Ditemukan Tak Bernyawa

Tim SAR Gabungan menemukan jasad remaja 15 tahun usai terseret arus Sungai Sei Belawan selama tiga hari. Jenazah ditemukan 2,5 km dari titik awal kejadian.

- Advertisement -

Poin Utama:

  • Seorang remaja bernama Aldo Aditya (15) ditemukan meninggal dunia setelah tiga hari hanyut terbawa arus di Sungai Sei Belawan, Deli Serdang.
  • Tim SAR menemukan jenazah korban pada Minggu (17/5/2026) dini hari, sekitar 2,5 kilometer dari lokasi awal kejadian di sekitar Jembatan Titi Besi.
  • Insiden bermula pada Jumat (15/5) saat korban bersama empat temannya berenang menyeberangi sungai dan diduga kehabisan tenaga di tengah arus.
  • Proses pencarian melibatkan berbagai alat khusus seperti perahu LCR dan pendeteksi Aqua Eye di tengah tantangan arus deras dan minimnya cahaya.
  • Operasi resmi ditutup setelah jenazah diserahkan kepada pihak keluarga, diiringi imbauan tegas agar orang tua lebih mengawasi anak di sekitar perairan.

Tiga hari yang diliputi kecemasan itu akhirnya bermuara pada sebuah kepastian yang menyayat hati. Harapan keluarga untuk menemukan Aldo Aditya (15) dalam kondisi selamat harus pupus ketika Tim SAR Gabungan menemukan sang remaja di aliran Sungai Sei Belawan, Kabupaten Deli Serdang, dalam kondisi tak lagi bernyawa.

Penemuan pada Minggu, 17 Mei 2026, sekitar pukul 00.35 WIB dini hari tersebut sekaligus mengakhiri operasi pencarian intensif yang telah menguras tenaga dan emosi banyak pihak.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan, Hery Marantika, mengonfirmasi bahwa jasad Aldo ditemukan cukup jauh dari titik awal ia dilaporkan tenggelam.

“Korban ditemukan sekitar 2,5 kilometer dari lokasi awal kejadian, tepatnya di sekitar Jembatan Titi Besi Sungai Sei Belawan. Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” tutur Hery dengan nada prihatin.

Terseret Arus di Tengah Kelelahan

Kisah nahas ini bermula pada Jumat (15/5) sore. Seperti anak-anak seusianya yang kerap menghabiskan waktu luang dengan bermain air, Aldo bersama empat orang temannya memutuskan untuk berenang menyeberangi sungai di kawasan Dusun VI Desa Pulau Agas, Kecamatan Hamparan Perak.

Malang tak dapat ditolak. Di tengah upayanya menyeberang, Aldo diduga kelelahan dan kehabisan tenaga. Derasnya arus Sungai Sei Belawan dengan cepat menyapu tubuhnya, membawanya menjauh dari jangkauan teman-temannya yang tak kuasa memberikan pertolongan.

- Advertisement -

Kabar hilangnya Aldo segera memicu respons cepat dari aparat. Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Medan langsung menerjunkan Tim Rescue ke lokasi untuk memetakan situasi dan menyusun strategi pencarian bersama Polsek Hamparan Perak, BPBD Deli Serdang, TAGANA, hingga warga setempat.

Tantangan Pencarian di Kegelapan Malam

Upaya pencarian selama tiga hari tersebut bukanlah tugas yang mudah. Tim menyusuri setiap kelokan sungai menggunakan perahu LCR dan perlengkapan water rescue. Mereka bahkan mengerahkan Aqua Eye, sebuah alat pendeteksi pintar di dalam air, untuk memindai area-area yang dicurigai.

Medan yang dihadapi tergolong berat. Selain arus sungai yang menantang, operasi yang terus dilanjutkan hingga malam hari ini harus berhadapan dengan minimnya pencahayaan dan jarak pandang yang sangat terbatas.

“Kolaborasi antarunsur SAR menjadi faktor penting dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan. Kami mengapresiasi seluruh personel yang tetap bekerja maksimal meskipun dihadapkan pada kondisi medan dan pencarian malam hari yang cukup berisiko,” puji Hery Marantika atas dedikasi tim di lapangan.

Pengingat Berharga bagi Orang Tua

Kini, jenazah Aldo telah dievakuasi dan diserahkan sepenuhnya kepada pihak keluarga di rumah duka. Seiring dengan penyerahan tersebut, Operasi SAR gabungan resmi dinyatakan selesai dan seluruh personel dikembalikan ke kesatuannya masing-masing.

Peristiwa di Sei Belawan ini menyisakan duka, namun sekaligus menjadi pelajaran berharga yang harus ditebus dengan harga mahal. Mewakili tim di lapangan, Hery memberikan pesan khusus yang ditujukan kepada masyarakat luas.

“Faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama. Kami mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak saat beraktivitas di sekitar sungai maupun wilayah perairan lainnya,” pungkasnya, berharap agar tragedi serupa tak lagi terulang di kemudian hari.

- Advertisement -

Artikel Terkait :

Disdikbud Tebing Tinggi Resmi Buka SPMB Jalur Domisili 2026,...

Berkomitmen ciptakan penerimaan yang transparan dan bebas manipulasi, proses pendaftaran dibagi menjadi dua tahap dan dapat dipantau langsung secara daring oleh masyarakat.

Artikel Terkait :

Populer

Topik Populer

#1

#2

#3

#4

Disdikbud Tebing Tinggi Resmi Buka SPMB Jalur Domisili 2026,...

Berkomitmen ciptakan penerimaan yang transparan dan bebas manipulasi, proses pendaftaran dibagi menjadi dua tahap dan dapat dipantau langsung secara daring oleh masyarakat.

Taggar Trending