Ketegangan di Jalur Gaza, Palestina, belum menunjukkan tanda-tanda usai. Sepanjang hari Sabtu (20/6/2026), serangkaian serangan udara dan tembakan yang dilancarkan oleh pasukan Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya sembilan orang. Pejabat kesehatan setempat mengonfirmasi bahwa di antara korban tewas terdapat warga sipil, termasuk wanita dan seorang anak.
Meski gencatan senjata yang disepakati pada bulan Oktober lalu sempat menghentikan pertempuran berskala besar, rentetan serangan sporadis dari Israel masih terus memakan korban jiwa di berbagai penjuru Gaza.
Rincian Serangan Akhir Pekan di Gaza
Berdasarkan laporan medis dan pejabat kesehatan setempat, sembilan korban jiwa tersebut jatuh dalam beberapa insiden terpisah di berbagai wilayah Gaza:
- Kota Gaza (Lingkungan Sabra): Serangan udara Israel menghancurkan sebuah gedung apartemen. Insiden ini menewaskan empat warga Palestina, yang terdiri dari dua orang wanita, satu anak-anak, dan satu pria, serta melukai beberapa penghuni lainnya. Militer Israel berdalih serangan ini menargetkan seorang militan, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
- Beit Lahiya (Gaza Utara): Pasukan Israel dilaporkan menembak dan menewaskan seorang wanita di kota tersebut.
- Khan Younis (Gaza Selatan): Gempuran udara menewaskan sedikitnya satu orang dan menyebabkan delapan warga lainnya luka-luka.
- Kamp Pengungsi Bureij (Gaza Tengah): Serangan udara di kawasan padat penduduk ini menewaskan tiga orang. Petugas medis mengonfirmasi bahwa salah satu korban tewas adalah seorang fotografer lokal.
Sejauh ini, pihak militer Israel tidak memberikan komentar atau konfirmasi resmi terkait serangkaian insiden di wilayah utara, selatan, maupun tengah Gaza tersebut.
Korban Jiwa Pasca-Gencatan Senjata Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Gaza merilis data memprihatinkan terkait jumlah korban sejak gencatan senjata bulan Oktober diberlakukan. Tercatat lebih dari 1.010 warga Palestina telah tewas akibat tembakan maupun serangan Israel. Dalam periode yang sama, empat tentara Israel dilaporkan tewas di Gaza.
Israel mengklaim operasi militer mereka bertujuan untuk menggagalkan rencana serangan dari Hamas dan kelompok militan lainnya. Secara keseluruhan, sejak eskalasi pecah pada 7 Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 73.000 warga Palestina tewas, sementara data Israel mencatat 1.200 korban jiwa di pihak mereka pada awal invasi lintas batas.
Kebuntuan ‘Rencana Gaza’ Presiden Trump
Di ranah diplomasi, negosiasi tahap kedua dari rencana damai usulan Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih menemui jalan buntu. Perundingan yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, Turki, bersama Utusan Dewan Perdamaian Trump untuk Gaza, Nickolay Mladenov, belum mencapai kesepakatan final.
Pada Rabu lalu, Mladenov dilaporkan telah menyerahkan dokumen peta jalan damai versi revisi kepada Hamas. Dokumen ini dirancang untuk mengakomodasi beberapa kekhawatiran faksi di Gaza tanpa melanggar “garis merah inti” dari rencana Trump. Namun, tuntutan dari kedua belah pihak masih saling bertolak belakang:
- Tuntutan Israel: Hamas harus melucuti senjata, menyerahkan kekuasaan penuh di Gaza, dan tidak memiliki peran apa pun dalam pemerintahan masa depan.
- Sikap Hamas: Pihaknya menolak pelucutan senjata sepihak. Hamas menyatakan bahwa pelucutan senjata secara penuh hanya akan dilakukan jika ada peluncuran jalur politik yang jelas menuju pembentukan negara Palestina yang berdaulat. Saat ini, pejabat Hamas mengonfirmasi bahwa dokumen revisi tersebut masih dipelajari.
“Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.010 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata Oktober lalu. Sementara itu, kebuntuan politik masih terjadi terkait pelucutan senjata dan masa depan pemerintahan Gaza.”


