Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan memiliki peluang untuk rebound atau kembali menguat pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Momentum ini menjadi angin segar setelah indeks terus mengalami tekanan dan terkoreksi selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Peluang pembalikan arah ini disampaikan oleh Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.
Menurutnya, pasar saham domestik memiliki ruang untuk kembali bangkit secara teknikal dalam jangka pendek.
“IHSG berpotensi short term technical rebound,” ujar Fanny di Jakarta, Selasa (19/5/2026). Ia memprakirakan indeks akan bergerak menguji level support pada rentang 6.460 hingga 6.500, sementara untuk level resistansi akan berada di kisaran 6.650 hingga 6.700.
Sebagai kilas balik, pada perdagangan awal pekan, Senin (18/5), IHSG ditutup anjlok 1,85 persen ke level 6.599,24.
Pelemahan ini juga diiringi oleh aksi jual bersih (net sell) dari investor asing senilai Rp460 miliar.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilego asing di antaranya adalah ANTM, BREN, AMMN, ADRO, dan DSSA.
Bayang-bayang Sentimen Global
Pergerakan IHSG hari ini tidak lepas dari dinamika bursa saham global yang juga cenderung ditutup melemah.
Ketegangan konflik di Timur Tengah serta tren kenaikan harga minyak mentah dunia masih menjadi sentimen negatif yang membebani pasar.
Di bursa Wall Street, Amerika Serikat, indeks Nasdaq tercatat terkoreksi akibat kenaikan harga minyak yang dibarengi dengan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan aksi jual pada saham-saham sektor teknologi.
Indeks S&P 500 juga terpantau nyaris stagnan, menyisakan Dow Jones Industrial Average yang masih mampu bertahan di zona hijau.
“Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan biaya pinjaman, yang akan bertahan lebih lama,” jelas Fanny.
Kekhawatiran terhadap inflasi global ini juga merambat ke bursa Asia Pasifik. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,97 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,11 persen, CSI 300 Tiongkok turun 0,54 persen, dan Taiex Taiwan merosot 0,68 persen.
Selain sentimen geopolitik, pelaku pasar global juga tengah bersikap hati-hati menjelang rilis laporan keuangan dari raksasa chip kecerdasan buatan, Nvidia, yang diyakini akan menjadi penentu arah pergerakan saham teknologi dunia pekan ini.
Menanti Arah Kebijakan Bank Indonesia
Di kancah domestik, faktor penentu pergerakan pasar saat ini berada pada kebijakan moneter.
Perhatian investor tertuju penuh pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pada 19–20 Mei 2026.
“Apakah BI masih akan mempertahankan atau mengubah kebijakan suku bunganya,” tutur Fanny, menyoroti keputusan krusial yang sangat dinanti pasar untuk menentukan arah portofolio investasi ke depan.


