Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) kali ini menyisakan satu pemandangan yang sukses bikin hati hangat. Bukan sekadar rutinitas syiar Islam biasa, momen yang terekam di Aek Bilah ini sukses menampar ego sektarian dengan potret nyata toleransi tingkat dewa!
Jalanan Desa Biru mendadak disulap menjadi lautan manusia pada Kamis (21/5/2026). Agenda rutin Pawai Ta’aruf pembuka MTQ ke-58 ini awalnya berjalan seperti biasa, diikuti oleh barisan kafilah, anak sekolah, Pramuka, hingga aparat TNI-Polri. Namun, ada satu pemandangan yang bikin momen ini terasa sangat magis dan emosional.
Di tengah riuhnya barisan, organisasi dan elemen masyarakat Kristiani ternyata ikut melebur. Mereka berjalan beriringan meramaikan perayaan saudara sebangsanya.
Publik yang menonton dibuat takjub melihat ritme kebersamaan ini. Rute pawai sejauh kurang lebih 1 kilometer—bermula dari pelataran Masjid Raya Biru hingga ke Lapangan Sepak Bola Kantor Camat Aek Bilah—dipenuhi oleh langkah kaki dan canda tawa lintas iman. Di ujung rute, Bupati Tapsel Gus Irawan Pasaribu bersama Wakil Bupati Ja’far Syahbuddin Ritonga sudah berdiri di panggung kehormatan, menyambut seluruh rombongan dengan senyum kebanggaan.
Situasi ini bikin M. Rawi Ritonga, tokoh masyarakat Aek Bilah sekaligus anggota DPRD Tapsel, tak bisa menyembunyikan rasa salutnya. Siapa sangka, Aek Bilah yang berstatus sebagai kecamatan terjauh di Tapsel justru menjelma menjadi kiblat kerukunan beragama yang sesungguhnya.
Ini bukan sekadar formalitas pembukaan acara. Momen emosional di Aek Bilah ini menjadi penegas bahwa MTQ bukan sekadar panggung adu merdu lantunan ayat suci. Jauh dari itu, event ini adalah momentum perekat untuk memperkokoh persaudaraan, merawat toleransi, dan membuktikan bahwa warga Tapsel siap bergandengan tangan untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat. Respect!


